Programmable Search Engine requires JavaScript

JavaScript is either disabled or not supported by your browser. To use Programmable Search Engine, enable JavaScript by changing your browser options and reloading this page.

Capaian Pembelajaran Bahasa Jepang dan Contoh ATP SD-SMA

Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) Bahasa Jepang SD-SMA dalam kurikulum merdeka belajar berisi keterampilan yang harus diselesaikan peserta didik di setiap tahap. Capaian Pembelajaran Bahasa Jepang selanjutnya digunakan untuk menentukan tujuan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).

Alur Tujuan Pembelajaran

Rasional

Seiring dengan kemajuan zaman yang diikuti dengan perkembangan teknologi digital, dunia semakin terbuka. Hal itu memberikan banyak peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri dan bersaing di dunia internasional. Penguasaan bahasa Jepang sebagai bahasa asing akan mempermudah interaksi dan menyerap berbagai perkembangan teknologi. Pemahaman lintas budaya seperti adat istiadat, kebiasaan, norma-norma, bahasa, dan cara berkomunikasi akan tertuang dalam teks-teks yang dipelajari sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri. Oleh karena itu, keterampilan berbahasa Jepang dapat digunakan dalam berinteraksi dengan masyarakat Jepang di dunia bisnis, perdagangan, industri, pariwisata, pendidikan, dan menjadi sarana refleksi diri terhadap budaya bangsa sendiri. Dengan menguasai bahasa Jepang, peserta didik akan memiliki peluang meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bekerja di perusahaan Jepang di dalam maupun di mancanegara.
Kedudukan mata pelajaran Bahasa Jepang dalam kurikulum termasuk dalam kelompok bahasa atau peminatan. Dengan jam pertemuan sebanyak 216 JP per tahun di kelas 11 dan 192 JP per tahun di kelas 12, maka target yang dicapai dalam pelajaran bahasa Jepang setara level A2 (pemula) JF Standard. Dalam JF Standard terdapat Can-do CEFR dan Can-do JF. Can-do CEFR adalah deskripsi umum yang abstrak, sedangkan Can-do JF memberikan situasi penggunaan bahasa Jepang sebagai gambaran kegiatan bahasa yang konkret. Dengan menjadikan Can-do sebagai target pembelajaran, dimungkinkan merancang pembelajaran untuk mencapai kemampuan berkomunikasi yang sesungguhnya.
Pendekatan pembelajaran Bahasa Jepang tetap mengacu pada level kompetensi Taksonomi Bloom atau Anderson Krathwohl yang disesuaikan dengan kemampuan individual peserta didik. Oleh karena itu, pengajar diharapkan untuk menggunakan pendekatan komunikatif (communicative approach), bukan pendekatan gramatikal dan penerjemahan dengan memperhatikan tahapan taksonomi tersebut.
Selain itu, dengan belajar bahasa Jepang, peserta didik dapat memahami pengetahuan sosial-budaya dan interkultural sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dengan memahami budaya Jepang dan interaksinya dengan budaya Indonesia, mereka dapat mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang budaya Indonesia, memperkuat identitas dirinya, dan dapat menghargai perbedaan. Pembelajaran bahasa Jepang membantu mereka menyiapkan diri untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat yang reflektif, kritis, kreatif, serta memiliki kebinekaan global sesuai tujuan yang ingin dicapai yaitu Profil Pelajar Pancasila.

Tujuan Pembelajaran

Mata pelajaran Bahasa Jepang bertujuan untuk memastikan peserta didik mencapai kemampuan berkomunikasi level A2 (pemula) JF Standar dengan memperhatikan butir- butir berikut:
1. mengembangkan kompetensi komunikatif dalam bahasa Jepang dengan berbagai teks multimodal (lisan, tulisan, visual, audiovisual);
2. mengembangkan kompetensi interkultural untuk memahami dan menghargai perspektif, praktik, produk budaya Jepang, sekaligus mampu merefleksi budaya sendiri;
3. mengembangkan kepercayaan diri untuk berekspresi sebagai individu yang mandiri dan bertanggung jawab;
4. mengembangkan keterampilan abad ke-21 (critical thinking, creative, communicative, collaborative, curiocity, computational thinking);
5. memfasilitasi peserta didik yang berminat untuk mempelajari dan menguasai bahasa Jepang secara menyeluruh;
6. memperkaya peserta didik dengan pengetahuan bahasa Jepang yang lebih luas dan komprehensif.

Karakteristik

Karakteristik dalam bahasa Jepang diklasifikasikan ke dalam lima kelompok, yaitu hatsuon (pelafalan), moji (huruf), goi (kosakata), bunpou (tata bahasa), dan hyougen (ungkapan) yang harus dipelajari secara menyeluruh dan terintegrasi.
Pembelajaran bahasa Jepang tingkat SMA mengasah kemampuan berkomunikasi peserta didik berdasarkan JF Standard dengan memperhatikan hal-hal berikut.
1. Komunikasi
Aktivitas komunikasi merupakan suatu kegiatan manusia sebagai individu dan antarindividu satu dengan lainnya. Halliday dalam Brown (2007) menyebutkan bahwa fungsi bahasa yang salah satunya berfungsi sebagai sarana interaksi, bertujuan untuk menjamin serta memantapkan ketahanan dan kelangsungan komunikasi, juga interaksi sosial. Keberhasilan komunikasi seperti ini menuntut pengetahuan secukupnya mengenai banyak segi, seperti budaya, tata krama pergaulan, cerita rakyat, dan sebagainya.
Mempelajari bahasa asing tidak terlepas dari pengetahuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis atau lebih dikenal dengan istilah empat keterampilan berbahasa. Dalam bahasa Jepang hal itu disebut dengan yon-ginou (4技能). Menyimak adalah keterampilan mendengarkan atau memperhatikan dengan baik-baik apa yang diucapkan dan dibaca oleh seseorang. Berbicara adalah keterampilan untuk menyampaikan gagasan, pikiran, serta perasaan secara lisan dalam interaksi sosial. Membaca adalah keterampilan melihat/mengamati serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau di dalam hati. Menulis adalah keterampilan dalam merangkai huruf menjadi sebuah kata/frasa/kalimat/paragraf, angka, dan sebagainya, menjadi sesuatu yang bermakna untuk dikomunikasikan/disampaikan.
2. Reseptif
Aktivitas reseptif adalah aktivitas menyimak dan memahami tuturan dalam bentuk tulis yang dapat dipadankan dengan aktivitas membaca. Pada aktivitas menyimak sangat dibutuhkan kemampuan untuk memperhatikan dan mendengarkan dengan baik apa yang diucapkan oleh orang lain dalam bentuk monolog maupun dialog. Contohnya siaran berita, pengumuman informasi di bandara mengenai jadwal keberangkatan, orang yang sedang bercakap-cakap di telepon, dan sebagainya. Adapun pada aktivitas membaca dibutuhkan kemampuan untuk memahami isi tulisan orang lain. Contohnya, membaca di dalam hati atau dilisankan, yakni berupa pengumuman, ulasan berita surat kabar, iklan mengenai loker, surat, dan sebagainya.
3. Produktif
Produktif adalah proses untuk menghasilkan sesuatu berupa ujaran atau dalam bentuk tulisan. Suatu ujaran yang dihasilkan setelah melalui proses pemahaman tuturan orang lain dapat dipadankan dengan aktivitas berbicara. Aktivitas menulis merujuk pada proses menghasilkan suatu tulisan, seperti berupa huruf, angka, dan sebagainya. Kemahiran berbicara dan menulis termasuk ke dalam kategori keterampilan yang bersifat produktif
4. Kompetensi Linguistik
Kompetensi linguistik seseorang berkaitan dengan pengetahuan akan sistem bahasa, struktur bahasa, kosakata, hingga seluruh aspek kebahasaan tersebut yang saling berhubungan. Indikator kompetensi linguistik yang berkaitan dengan kemampuan berbicara meliputi: (1) kecakapan menggunakan kata dengan makna khusus yang berkaitan dengan ungkapan dalam percakapan sehari-hari; (2) kecakapan memahami bentuk kata dan pola kalimat yang tepat dalam sebuah percakapan, mulai dari percakapan pendek hingga panjang; (3) kecakapan menafsirkan dengan tepat apa yang didengar kemudian dilisankan dengan baik.
Kompetensi sosiolinguistik adalah kemampuan untuk memahami konteks sosial di mana bahasa tersebut digunakan. Kompetensi sosiolinguistik meliputi peran pendengar dan pembicara, informasi yang mereka bagi, serta fungsi dan tujuan interaksi.
5. Interaksi
Interaksi dapat dikategorikan secara verbal maupun nonverbal. Interaksi bentuk verbal dapat berupa pemaparan tuturan, yakni penggunaan kata-kata sendiri, penggunaan contoh, penggunaan rekonstruksi kalimat, dan penggunaan analogi serta penciptaan kata, yakni berupa bagian kata atau frasa, penggunaan sinonim, dan penggunaan asosiasi kata. Interaksi bentuk nonverbal meliputi penggunaan isyarat atau gestur, penggunaan gerakan, intonasi, dan sikap yang ditunjukkan kepada lawan bicara.

Mata pelajaran bahasa Jepang memiliki 4 elemen, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis