Programmable Search Engine requires JavaScript

JavaScript is either disabled or not supported by your browser. To use Programmable Search Engine, enable JavaScript by changing your browser options and reloading this page.

Capaian Pembelajaran Bahasa Mandarin dan Contoh ATP SD-SMA

Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) Bahasa Mandarin SD-SMA dalam kurikulum merdeka belajar berisi keterampilan yang harus diselesaikan peserta didik di setiap tahap. Capaian Pembelajaran Bahasa Mandarin selanjutnya digunakan untuk menentukan tujuan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).

Alur Tujuan Pembelajaran

Rasional

Bahasa Mandarin, bahasa nasional negara RRC, merupakan salah satu bahasa resmi PBB dan salah satu bahasa yang paling banyak dituturkan di seluruh dunia. Hal ini sejalan dengan perkembangan ekonomi dan kemajuan teknologi negara RRC dalam era revolusi industri 4.0 dan kebijakan OBOR (One Belt One Road) sebagai salah satu bentuk dari fenomena globalisasi yang menciptakan efek borderless bagi setiap negara yang dilaluinya. Sebagai projek konektivitas global yang dicanangkan pemerintah RRC melalui pembangunan infrastruktur dan jalur transportasi darat dan laut yang menghubungkan negara RRC dengan kawasan Asia, Eropa, dan Afrika, kebijakan OBOR ini menciptakan potensi dan tantangan berupa persaingan ekonomi dan persaingan antara tenaga kerja lokal dan tenaga kerja asal RRC. Keadaan ini menciptakan kebutuhan SDM yang mampu berbahasa Mandarin (Wibawati, 2018).
Karakteristik bahasa Mandarin jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, mulai dari segi fonetik, tata bahasa, hingga aksara Han atau karakter Cina atau Hanzi sebagai bahasa tulisnya. Oleh karena itu, sangat diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang tidak hanya memberi dasar pengetahuan kebahasaan (empat unsur kebahasaan dan pengetahuan kebudayaan), tetapi juga melatih empat keterampilan berbahasa. Pendekatan komunikatif menjadi pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran terpadu pada masing-masing satuan pendidikan. Selain melibatkan keikutsertaan aktif peserta didik, pendekatan ini berjalan bersama dengan pembelajaran berbasis teks yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik dan mengembangkan bukan hanya pengetahuan, melainkan juga keterampilan berbahasa.
Dengan mempelajari bahasa Mandarin, diharapkan peserta didik memiliki kompetensi global dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka berkontribusi pada masyarakat luas sebagai perwujudan manusia yang berakhlak mulia. Pembelajaran bahasa Mandarin juga mendorong pelajar menjadi kreatif, percaya diri, aktif, bernalar kritis, bermotivasi, dan mandiri sebagai perwujudan Profil Pelajar Pancasila.

Tujuan Pembelajaran

Pembelajaran bahasa Mandarin bertujuan untuk memastikan peserta didik:
1. memiliki pengetahuan dasar tentang unsur kebahasaan bahasa Mandarin yang menyeluruh dan komprehensif mencakupi ranah fonetik, kosakata, struktur tata bahasa, dan aksara Cina (Hanzi);
2. mengembangkan keterampilan berkomunikasi yang kreatif dan inovatif dalam bahasa Mandarin lisan dan tulis dengan penguasaan kosakata dan tata bahasa yang terdapat dalam HSK 1 atau yang setara dengan CEFR A1;
3. memiliki pemahaman lintas budaya Cina–Indonesia yang terintegrasi dengan pengetahuan kebahasaan bahasa Mandarin sehingga mampu menggunakan bahasa Mandarin dalam berkomunikasi lisan dan tulis sesuai konteks situasi, kondisi, dan lawan bicara dengan kaidah bahasa Mandarin yang baik dan benar.

Karakteristik

1. Sebagai bahasa tonal atau bahasa yang memiliki ton/tona sebagai segmen suprasegmental, bahasa Mandarin memiliki keunikan dalam tataran fonetik atau tata bunyi, yaitu memiliki ton berbeda yang berfungsi membedakan arti. Perbedaan ton tersebut memengaruhi makna, baik makna kata maupun makna kalimat secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembelajaran tona bahasa Mandarin menjadi bagian atau tahap krusial yang memiliki porsi khusus yang dibelajarkan, baik secara terpisah maupun terintegrasi dalam pembelajaran fonetik secara keseluruhan.
2. Bahasa Mandarin pun memiliki keunikan dalam pembentukan kata (morfologi), struktur kalimat, serta penulisan aksara yang memiliki perbedaan yang cukup jauh dari bahasa Indonesia.
3. Tulisan bahasa Mandarin berupa Hanzi merupakan bagian tersulit dalam pembelajaran bahasa Mandarin karena jumlah aksara yang banyak (kira-kira tiga ribu aksara) serta bentuk yang kompleks berupa guratan membentuk gambar bermakna.
4. Mata pelajaran bahasa Mandarin saat ini dibelajarkan sesuai kesepakatan para penyelenggara pendidikan. Ada institusi pendidikan yang menjadikan mata pelajaran bahasa Mandarin sebagai salah satu mata pelajaran intrakurikuler, ada yang memasukkannya sebagai mata pelajaran muatan lokal, ada pula yang menjadikannya sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler.
5. Peserta didik yang pernah mempelajari bahasa Mandarin pada jenjang pendidikan sebelumnya diberikan tes awal untuk mengetahui kemampuan dasar yang telah dimiliki sekaligus untuk membuat standardisasi pengetahuan dan keterampilan peserta didik.
6. Dengan keterbatasan jam pelajaran yang dialokasikan bagi mata pelajaran bahasa Mandarin, pembelajaran bahasa Mandarin dilaksanakan sebagai sebuah mata pelajaran terpadu dengan model pembelajaran fragmented.
7. Pembelajaran empat keterampilan kebahasaan dibelajarkan dalam setiap pertemuan dengan persentase yang berbeda pada setiap keterampilan. Pembelajaran keterampilan menyimak dan berbicara diutamakan. Keterampilan membaca lebih diutamakan pada membaca Hanyu Pinyin (sistem Latinisasi Hanzi) dan bukan pada membaca Hanzi. Sementara itu, keterampilan menulis juga hanya memberi dasar-dasar penulisan guratan dan urutan penulisan Hanzi dan bukan pada keterampilan menulis kalimat atau karangan dengan Hanzi.