Programmable Search Engine requires JavaScript

JavaScript is either disabled or not supported by your browser. To use Programmable Search Engine, enable JavaScript by changing your browser options and reloading this page.

Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dan Contoh ATP SD-SMA

Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti SD-SMA dalam kurikulum merdeka belajar berisi keterampilan yang harus diselesaikan peserta didik di setiap tahap. Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti selanjutnya digunakan untuk menentukan tujuan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).

Alur Tujuan Pembelajaran

Rasional

Undang-undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (5) mengamanatkan bahwa Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Hal itu diperkuat oleh tujuan Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Pasal 37 Ayat (1) menegaskan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat, huruf a pendidikan agama. Kemudian dalam penjelasannya menyebutkan bahwa pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi perekat bangsa dan memberikan anugerah yang sebesar-sebesarnya bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Pendidikan agama memberikan penekanan pada pembentukan iman, takwa, dan akhlak mulia menyiratkan bahwa pendidikan agama bukan hanya bertujuan mengasah kecerdasan spiritual dan iman juga aspek ketaatan pada ajaran agama. Namun lebih dari itu, pendidikan agama harus mampu membentuk manusia yang manusiawi. Jadi, mengukur keberimanan peserta didik tidak hanya dilihat dari ketakwaan dan ketaatan pada ajaran agama serta pengetahuan secara kognitif melainkan apakah peserta didik telah menjadi manusia yang manusiawi.
Keberadaan Indonesia sebagai negara dan bangsa yang didirikan di atas keberagaman membutuhkan topangan dari rakyatnya yang menyadari adanya keberagaman itu, mampu menerima dan menghargai keberagaman yang ada dan itu harus dibuktikan melalui sikap yang manusiawi yang terukur dalam tindakan hidup. Untuk mencapai cita-cita pendidikan tersebut, diperlukan pula pengembangan ketiga dimensi moralitas peserta didik secara terpadu, yaitu: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Pertama, moral knowing, meliputi: 1. Moral awareness, kesadaran moral (kesadaran hati nurani); 2. Knowing moral values (pengetahuan nilai-nilai moral), terdiri atas rasa hormat tentang kehidupan dan kebebasan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keterbukaan, toleransi, kesopanan, disiplin diri, integritas, kebaikan, perasaan kasihan, dan keteguhan hati; 3. Perspective-taking (kemampuan untuk memberi pandangan kepada orang lain, melihat situasi seperti apa adanya, membayangkan seseorang seharusnya berpikir, bereaksi, dan merasakan); 4, Moral reasoning (pertimbangan moral) adalah pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan bermoral dan mengapa kita harus bermoral; 5. Decision making (pengambilan keputusan) adalah kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah-masalah moral; 6. Self-knowledge (kemampuan untuk mengenal atau memahami diri sendiri). Kemampuan ini paling sulit untuk dicapai, tetapi perlu untuk pengembangan moral. (Lickona, 1991).
Kedua, moral feeling (perasaan moral), meliputi enam aspek penting, yaitu: 1. Conscience (kata hati atau hati nurani), yang memiliki dua sisi, yakni sisi kognitif (pengetahuan tentang apa yang benar) dan sisi emosi (perasaan wajib berbuat kebenaran); 2. Self-esteem (harga diri). Jika kita mengukur harga diri sendiri berarti kita menilai diri sendiri. Jika menilai diri sendiri berarti merasa hormat terhadap diri sendiri; 3. Empathy (kemampuan untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain, atau seolah-olah mengalami sendiri apa yang dialami dan dilakukan orang lain); 4. Loving the good (cinta pada kebaikan), yang merupakan bentuk tertinggi dari karakter, termasuk menjadi tertarik dengan kebaikan yang sejati. Jika orang cinta pada kebaikan, maka mereka akan berbuat baik dan memiliki moralitas; 5. Self-control (kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri), dan berfungsi untuk mengekang kesenangan diri sendiri; dan, 6. Humility (kerendahan hati), yaitu kebaikan moral yang kadang-kadang dilupakan atau diabaikan, pada hal ini merupakan bagian penting dari karakter yang baik. (Lickona, 1991)
Ketiga, moral action (tindakan moral), meliputi tiga aspek penting, yaitu: 1. Competence (kompetensi moral), yaitu kemampuan untuk menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dalam berperilaku moral yang efektif; 2. Will (kemauan), yakni pilihan yang benar dalam situasi moral tertentu, biasanya merupakan hal yang sulit; 3. Habit (kebiasaan), yakni suatu kebiasaan untuk bertindak secara baik dan benar. (Lickona, 1991). Tiga dimensi moralitas peserta didik ini, yaitu: moral knowing, moral feeling, dan moral action hanya dapat diwujudkan dalam tindakan. Hal itu terwujud jikalau pembelajaran pendidikan agama memberikan pengalaman belajar yang dibentuk dalam sebuah proses berpikir yang dapat membangun daya kritis peserta didik. Dalil-dalil agama bukanlah sesuatu yang harus diterima secara taken for granted namun harus diolah dalam suatu proses berpikir yang membutuhkan nalar atau akal sehat.
Pendidikan agama membutuhkan pembelajaran yang ditopang oleh akal sehat atau common sense sehingga peserta didik tidak jatuh kedalam fatalisme beragama. Apa yang menurut Thomas Groome seorang Teolog dan Pakar Pendidikan Agama Kristen, sebuah proses yang terukur lewat praksis atau tindakan hidup. Bukan sekadar “tindakan” hidup namun sebuah proses yang melibatkan manusia secara utuh, baik itu pikiran, perasaan, maupun keterampilan. Prinsip pembelajaran ini dipertegas dalam taksonomi Bloome, tujuan pendidikan meliputi ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Sejalan dengan itu, pemikiran tersebut di atas sesuai dengan prioritas dalam pembangunan Nasional yang dituangkan secara yuridis formal dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025 (UU Nomor 17 Tahun 2007), yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. RPJPN Tahun 2005-2025 ini kemudian dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang menegaskan bahwa pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas dari sebelas prioritas pembangunan Kabinet Indonesia Bersatu II. RPJMN menyatakan bahwa tema prioritas pembangunan pendidikan adalah peningkatan mutu pendidikan.
Bagian ke empat dari 7 (tujuh) Agenda Pembangunan Nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024 adalah Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan. Revolusi mental sebagai gerakan kebudayaan memiliki kedudukan penting dan berperan sentral dalam pembangunan untuk mengubah cara pandang, sikap, dan perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan, yang dilaksanakan secara terpadu dan bertumpu pada: 1. Revolusi mental dalam sistem pendidikan; 2. Revolusi mental dalam tata kelola pemerintahan; dan, 3. Revolusi mental dalam sistem sosial. Bersandingan dengan itu, revolusi mental diperkuat melalui upaya pemajuan dan pelestarian kebudayaan, memperkuat moderasi beragama; dan meningkatkan budaya literasi, inovasi, dan kreativitas.
Pengembangan pendidikan diarahkan bagi pembinaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Agama diyakini sebagai acuan pembentukan sikap, moral, karakter, spiritualitas, berpikir dan bertindak sesuai keyakinan imannya. Berbagai harapan tersebut dapat dicapai melalui proses internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Nilai moderasi beragama diimplementasikan dalam sikap keterbukaan, kebebasan berpikir, sadar akan keterbatasan, kerendahhatian, dan berpikir untuk kemanusiaan. Ajaran Kristen dalam nuansa moderasi beragama sangat dibutuhkan untuk menginternalisasikan karakter kekristenan yang toleran, terbuka, humanis, penuh kasih dan damai yang sejati. Keadaan ini bersandingan dengan tujuan pendidikan nasional yang diarahkan pada berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Moderasi beragama merupakan wadah untuk menumbuhkan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, bagi terwujudnya “Tri-Kerukunan Umat Agama” di Indonesia, yakni: kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. Nilai-nilai moderasi beragama senantiasa mejadi sikap penting bagi umat beragama melaksanakan tugas panggilan dalam interaksi dengan sesama. Seluru eksistensi orang percaya dipanggil dan diutus melaksanakan pekerjaan Tuhan di dunia. Komponen esensial kepribadian manusia adalah nilai (values) dan kebajikan (virtues). Kondisi ini merupakan dasar pengembangan kehidupan manusia yang memiliki peradaban, kebaikan, dan kebahagiaan secara individual maupun sosial. Pelayanan pendidikan agama Kristen sebagai perpanjangan tangan gereja yang berfungsi sebagai penyemaian iman kristiani, pengembangan kedewasaan spiritualitas, dan jadi pelaku Firman (bnd. Yakobus 1:22) serta menghasilkan buah (Yoh. 16:16).
Bagi masyarakat suatu bangsa, pendidikan merupakan suatu kebutuhan mendasar dan menentukan masa depannya. Seiring dengan arus globalisasi, keterbukaan, serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, pendidikan akan semakin dihadapkan dengan berbagai tantangan dan permasalahan yang lebih kompleks. Pendidikan nasional perlu dirancang agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang andal, tangguh, unggul, dan kompetitif. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan kita pada umumnya dan pendidikan agama pada khususnya perlu dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menjawab tantangan dan dinamika yang terjadi.
Umat manusia dihadapkan pada hal-hal baru yang muncul begitu cepat sebagai tantangan zaman yang harus dihadapi. Perubahan budaya, sosial, kemasyarakatan, gaya politik, arah hidup dan lainnya merupakan implikasi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia ini tengah menghadapi wabah Covid-19 yang memengaruhi berbagai bidang kehidupan termasuk pendidikan. Masyarakat di dunia “dipaksa” untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan perubahan ini. Model pembelajaran konvensional yang dibatasi oleh ruang kelas tidak lagi dapat dipertahankan. Dunia pendidikan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Pemanfaatan teknologi bagi peningkatan mutu pembelajaran perlu semakin ditingkatkan. Sejalan dengan itu desain kurikulum harus mampu menjawab tantangan perubahan yang ada. Oleh sebab itu, dibutuhkan sistem pendidikan yang tidak hanya baik, tetapi juga memiliki muatan yang kuat sebagai bekal dalam menghadapi perubahan-perubahan yang ada.
Mengacu pada latar belakang tersebut, maka dipandang perlu melakukan penyederhanaan Kurikulum 2013 yang dapat dipergunakan dalam berbagai kondisi serta dalam menghadapi berbagai perubahan dan dinamika masyarakat. Penyusunan capaian pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti didasarkan pada Kurikulum 2013 yang terdiri atas dua elemen, yaitu: Allah Tritunggal dan Nilai-nilai Kristiani. Dua elemen tersebut masih sangat umum dan belum dapat menggambarkan substansi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen secara spesifik. Untuk itu, dalam penyederhanaan kurikulum, dirumuskan empat elemen yang dapat mengakomodir seluruh substansi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Masing-masing elemen dan sub elemen merupakan pilar dalam pengembangan Capaian Pembelajaran dan materi pembelajaran.

Tujuan Pembelajaran

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti bertujuan untuk membantu peserta didik:
1. mengenal serta mengimani Allah yang berkarya menciptakan alam semesta dan manusia;
2. mengimani keselamatan kekal dalam karya penyelamatan Yesus Kristus;
3. mensyukuri Allah yang berkarya dalam Roh Kudus sebagai penolong dan pembaru hidup manusia;
4. mewujudkan imannya dalam perbuatan hidup setiap hari dalam interaksi dengan sesama dan memelihara lingkungan hidup;
5. memahami hak dan kewajibannya sebagai warga gereja dan warga negara serta cinta tanah air;
6. membangun manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggung jawab dan berakhlak mulia serta menerapkan prinsip moderasi beragama dalam masyarakat majemuk;
7. membentuk diri menjadi anak-anak dan remaja Kristen yang memiliki kedewasaan berpikir, berkata-kata dan bertindak sehingga menampakkan karakter kristiani;
8. membentuk sikap keterbukaan dalam mewujudkan kerukunan intern dan antara umat beragama, serta umat beragama dengan pemerintah;
9. memiliki kesadaran dalam mengembangkan kreativitas dalam berpikir dan bertindak berdasarkan Firman Allah; dan
10. mewujudkan peran nyata di tengah keluarga, sekolah, gereja, dan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Karakteristik

Sebagai implementasi Pasal 31, Undang Undang Dasar 1945, lahir Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa “Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Secara khusus, ketentuan penyelenggaraan pendidikan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 12 ayat (1) menegaskan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: butir a menegaskan: “mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa begitu serius pemerintah memperjuangkan pendidikan sebagai indikasi keberhasilan suatu bangsa dan negara.
Pengembangan pemikiran pembinaan pendidikan menjadi penting dalam menyikapi fenomena tantangan kehidupan yang kompleks dalam era globalisasi informasi dan komunikasi ini, yang dikenal sebagai abad pengetahuan, membawa banyak kemajuan dan tantangan sebagai konsekuensi logis kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada Abad 21 pesrta didik harus mampu berkarya dan memenangkan persaingan, menuntut penguasaan berbagai kemampuan yang memaknai kehidupan. Pendidikan yang memperlengkapi manusia untuk dapat bertahan hidup, bertumbuh, berinovasi, menjadi unggul, dan terkemuka dalam menjalani kehidupan di era globalisasi yang terus berkembang. Pendidikan tidak hanya membangun efektivitas (effectiveness), tetapi juga untuk mengejar pemenuhan diri (fulfillment), pelaksanaan yang penuh semangat (passionate execution), dan sumbangan yang bermakna (significant contribution) bagi kehidupan.
Pendidikan Kristen yang tertuang dalam PP No. 55 Tahun 2007, tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan memiliki 2 (dua) bentuk pendidikan, yaitu: Pendidikan Agama, dan Pendidikan Keagamaan. Pendidikan Agama dalam hal ini Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti, disajikaan dalam bentuk mata pelajaran pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Pasal 2 Ayat (1) dan (2), menyatakan bahwa Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. Selanjutnya, Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah membentuk kepribadian manusia yang matang secara intelektual, emosional, spiritual, dan berkarakter.
Hakikat PAK berdasarkan hasil Lokakarya Strategi Pendidikan Agama Kristen di Indonesia tahun 1999 adalah Usaha yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan. Setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan kebenaran dan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas dalam konteks masyarakat majemuk. Masyarakat Indonesia yang majemuk dipandang sebagai berkat Tuhan dan dalam konteks pemahaman iman Kristen merupakan medan layan bagi orang Kristen untuk membangun kehidupan bersama yang adil dan setara. Panggilan iman orang Kristen ini secara historis telah dibangun sejak proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, karakteristik Pendidikan Agama Kristen yang kontekstual harus menegaskan peran hidup orang beriman dalam mewujudkan tanggungjawabnya membangun bangsa Indonesia yang berketuhanan, bersatu, setara, dan berkeadilan, serta menghargai kemajemukan dalam masyarakat dan bangsa Indonesia.
Pendidikan Agama Kristen harus mampu menyikapi perkembangan zaman, sehingga peserta didik mampu menyelesaikan dan menjawab segala problematika yang dihadapi. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen harus memiliki muatan pembelajaran kontekstual, artinya materi yang ada di dalam Pendidikan Agama Kristen selalu dikaitkan dengan situasi dan konteks agar dapat menjelaskan kasus-kasus yang dialami dalam kehidupan nyata. Fakta yang diperoleh dari kajian bagi program pendidikan Kristen, yaitu: 1) Pelaku telah diberi karunia Roh; 2) Bertujuan mendewasakan umat melayani; 3) Menghasilkan dan hubungan harmonis; 4) Bersifat kebenaran teologis; 5) Penuh kasih karunia dan kebenaran; 6) Saling membantu dan berkembang secara harmonis.
Pendidikan Agama Kristen di Indonesia berlangsung dalam keluarga, gereja dan lembaga pendidikan formal. Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen di lembaga pendidikan formal menjadi tanggung jawab utama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Gereja. Oleh karena itu kerjasama yang bersinergi antara lembaga-lembaga tersebut perlu terus dibangun.
Berdasarkan karakteristik Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti disusun empat elemen yang mengikat capaian pembelajaran dan materi dalam satu kesatuan yang utuh pada semua jenjang. Secara holistik capaian pembelajaran dan lingkup materi mengacu pada empat elemen tersebut yang selalu diintegrasikan dengan Alkitab.