Programmable Search Engine requires JavaScript

JavaScript is either disabled or not supported by your browser. To use Programmable Search Engine, enable JavaScript by changing your browser options and reloading this page.

Capaian Pembelajaran Sosiologi dan Contoh ATP SD-SMA

Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) Sosiologi SD-SMA dalam kurikulum merdeka belajar berisi keterampilan yang harus diselesaikan peserta didik di setiap tahap. Capaian Pembelajaran Sosiologi selanjutnya digunakan untuk menentukan tujuan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).

Alur Tujuan Pembelajaran

Rasional

Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman ras, suku bangsa, agama, bahasa, dan tradisi. Pemersatu negara bangsa Indonesia adalah bukan kesamaan etnis dan agama, apalagi warna kulit. Dari Sabang sampai Merauke tidak disatukan oleh kesamaan identitas primordial, namun oleh sebuah solidaritas dan cita-cita politik sebagai sebuah nation, sebuah ‘komunitas yang terbayang’. Keragaman ini diikat oleh suatu komitmen kebangsaan dan solidaritas bersama. Berbeda-beda namun tetap satu jua, Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity).
Keragaman Indonesia, jika dikelola dengan baik, keberagaman ini merupakan potensi dan energi yang begitu luar biasa yang dapat digunakan untuk mendorong kemajuan dan pembangunan. Semangat persatuan dalam perbedaan menjadi pondasi terpenting kebangsaan kita. Namun, sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan-perbedaan ini dapat mengakibatkan konflik sosial. Keragaman ini dapat memicu keretakan kohesi sosial dan membuka ancaman konflik sosial di masa mendatang jika tidak diantisipasi dengan baik.
Dinamika konflik sosial yang terjadi belakangan ini menjadi keprihatinan yang mendalam. Fenomena tersebut membawa perubahan sosial dalam berbagai aspek, baik perubahan secara sosiologis maupun perubahan di ranah ekonomi maupun politik. Sementara masa depan bangsa Indonesia perlu diantisipasi dengan baik karena beragam tantangan yang dihadapi baik internal maupun eksternal. Kemajuan teknologi mengubah dunia dengan cepat, situasi sosial memasuki episode masyarakat digital dengan berbagai keunikan dan karakteristiknya. Menurut riset platform manajemen media sosial Hootsuite dan agensi marketing sosial We Are Social bertajuk "Global Digital Reports 2020", hampir 64 persen penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Riset yang dirilis pada akhir Januari 2020 tersebut menyebutkan, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 175,4 juta orang, sementara total jumlah penduduk Indonesia sekitar 272,1 juta. Dibanding tahun 2019 lalu, jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat sekitar 17 persen atau 25 juta pengguna.
Terbentuknya masyarakat digital ini menjadi sebuah tantangan tersendiri dari sudut sosiologis. Era digital ini, beberapa pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot atau mesin, namun disisi lain membuka inovasi baru dalam bidang digital. Untuk itu pendidikan akan diarahkan pada kemampuan soft skill berupa sikap kritis, kreatif, dan kemampuan komunikasi serta kolaborasi untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan warga negara yang lebih baik dalam hidup berbangsa dan bernegara di tengah arus globalisasi dan kemajemukan masyarakat Indonesia.
Perubahan prilaku masyarakat yang menyesuaikan dengan berbagai perubahan (ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan aspek lainnya) yang menjadi bahan kajian mata pelajaran Sosiologi. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dengan segala kompleksitasnya dan hal-hal yang membentuknya, interaksi sosial dan akibat yang ditimbulkannya, serta perilaku manusia secara kolektif. Dalam kaitan itu, hal penting yang perlu dilakukan adalah membangun imajinasi sosiologi di kalangan peserta didik. Imajinasi Sosiologi adalah cara untuk memahami permasalahan sosial dalam ranah personal dan ranah publik (Mills, 1959). Imajinasi sosiologi juga menjadikan sosiologi sebagai sebuah ilmu yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam dinamika Interaksi sosial memungkinkan muncul berbagai realitas baru dan beragam gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat. Di tengah dinamika sosial yang terus berubah sangat penting bagi peserta didik untuk mengenal identitas diri dan lingkungan sosialnya sehingga dapat menyikapi permasalahan dan perubahan sosial yang timbul di masyarakat secara adaptif dan solutif. Dalam konteks interaksi dengan dinamika kehidupan sosial yang terus berubah itu, etika sosial berperan penting dalam interaksi untuk membuat tatanan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara lebih teratur dan konflik dapat diatasi dengan baik. Untuk itu, peserta didik yang menjadi bagian dari dinamika sosial itu, perlu dibekali dengan kompetensi dalam bermasyarakat dan memiliki etika sosial sebagai warga negara yang bertanggung jawab yang dalam bingkai profil pelajar Pancasila. Pembelajaran sosiologi mengharapkan adanya perubahan pola pikir peserta didik di tengah perubahan masyarakat global yang terus dinamis yang difasilitasi dengan beragam proyek Profil Pelajar Pancasila. Proyek ini merupakan bentuk aplikasi dari pengetahuan sosiologi yang dimiliki perserta didik sehingga menumbuhkan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Tujuan Pembelajaran

Merujuk dari deskripsi rasional di atas, maka tujuan pembelajaran Sosiologi adalah agar peserta didik:
1. Memiliki kemampuan adaptasi dengan perubahan sosial di sekitarnya.
2. Memiliki kesadaran akan identitas diri dalam hubungan dengan kelompok sosial dalam konteks lingkungan masyarakat sekitar.
3. Memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah sosial atau konflik sosial di masyarakat sebagai orang dewasa atau warga negara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar dan kehidupan publik.
4. Memiliki kemampuan menjalin kerjasama, melakukan tindakan kolektif memecahkan masalah-masalah publik, dan membangun kehidupan publik.

Karakteristik

Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dengan segala dinamikanya dan hal-hal yang membentuknya, interaksi sosial dan segala akibat yang ditimbulkannya. Sosiologi penting untuk dipelajari sebagai bekal pengetahuan peserta didik dalam kehidupan nyata. Sifat masyarakat yang dinamis mendorong Sosiologi berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan pada masyarakat. Mata pelajaran Sosiologi memiliki arti penting untuk meningkatkan kemampuan adaptasi peserta didik terhadap perubahan sosial di lingkungan sekitar.
Tumbuhnya kesadaran akan identitas diri dalam hubungan dengan kelompok sosial dalam konteks lingkungan masyarakat sekitar penting dikembangkan. Demikian pula, kepedulian terhadap masalah-masalah sosial termasuk memahami konflik sosial di masyarakat sebagai orang dewasa atau warga negara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar dan kehidupan publik. Kemampuan peserta didik sebagaimana ditunjukkan dalam keterampilan sosialnya dalam menjalin kerjasama, melakukan tindakan kolektif memecahkan masalah-masalah publik, dan membangun kehidupan publik sangat diharapkan.
Mata pelajaran Sosiologi di SMA menekankan kemampuan peserta didik dalam mempraktikkan pengetahuan Sosiologi dalam kehidupan sehari-hari sebagai individu dalam kelompok sosial beserta permasalahan yang ada di dalamnya. Pembelajaran Sosiologi ditujukan agar peserta didik dapat berpikir kritis, analitis dan kolaboratif dalam penumbuhan kesadaran individu dan sosial dalam masyarakat yang beragam.
Di samping itu, peserta didik juga diharapkan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial. Hal ini mencerminkan tanggung jawab sebagai warga negara (citizen responsibility). Apalagi perubahan sosial terjadi secara dramatis di seluruh sektor masyarakat. Kita bisa melihat berbagai isu dan masalah sosial yang sedang terjadi seperti revolusi teknologi, perubahan iklim, keadilan sosial dan demokratisasi, politik identitas. Menurut Zygmunt Bauman & May (2019), hal ini diperlukan kemampuan berfikir sosiologi (thinking sociologically) yang dapat dipraktikkan dengan praktik penelitian sosial di lingkungan sekitar peserta didik. Peserta didik juga mampu secara mandiri kolaboratif untuk melakukan pemberdayaan sosial dan memungkinkan menjadi aktor kewirausahaan sosial di tengah-tengah masyarakat untuk merespon perubahan tersebut dengan memegang teguh prinsip-prinsip metodologi ilmiah.